Hi, Guest!

  LOKASI :  pekanbaru

  AKTIVITAS :  01/01/1970

Bergabung Selama : 16 Tahun

BAGIKAN :   

Bagikan :
Produk atau jasa ini sudah tidak dijual, silakan hubungi perusahaan bersangkutan untuk keterangan lebih lanjut.

NATURAL GUM/GETAH JELUTUNG/LATEX JELUTON/LATEX OF DYERA SPP

Update Terakhir
:
30 / 12 / 2015
Min. Pembelian
:
1 Unit
Harga
CALL
Bagikan
:

Perhatian !

Perusahaan ini terdaftar sebagai Free Member. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,harap berhati-hati ketika melakukan transaksi. Indonetwork tidak melakukan verifikasi alamat dan dokumen untuk keanggotaan Free Member. Kami tidak bertanggung jawab apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Detail NATURAL GUM/GETAH JELUTUNG/LATEX JELUTON/LATEX OF DYERA SPP

POHON JELUTUNG (Dyera spp.) TANAMAN DWIGUNA YANG KONSERVASIONIS DAN MENGHIDUPI Indonesia merupakan penghasil utama getah jelutung, hampir seluruh produksi getah jelutung Indonesia diekspor ke luar negeri dalam bentuk bongkah. Negara tujuan ekspor meliputi Singapura, Jepang dan Hongkong. Getah jelutung berfungsi sebagai bahan baku pembuatan permen karet yang dimulai pada tahun 1920-an dan pada tahun 1940-an getah jelutung telah menggeser posisi lateks dari pohon Achras sapota, yaitu pohon penghasil bahan baku asli permen karet yang berasal dari Amerika Tengah. Getah jelutung juga digunakan dalam industri perekat, laka, lanolic, vernis, ban, water proofing dan cat serta sebagai bahan isolator dan barang kerajinan. Jelutung merupakan salah satu jenis pohon raksasa dengan diameter batang mencapai 240 cm dan tinggi lebih dari 45 m, berbatang lurus dengan percabangan pertama dimulai pada ketinggian sekitar 30 m, tumbuh menyebar secara alami dengan jarak antara satu pohon dengan pohon lainnya 50 m dan umumnya antara 300 sampai 400 m. Jelutung tersebar di Sumatera (Jambi, Riau, Sumatra Utara) dan dikenal dengan nama abuwai, sedangkan di Kalimantan (Kalbar, Kalteng, Kalsel) dikenal dengan nama pantung. Ada tiga macam pohon Jelutung, dua macam tumbuh di Rawa berwarna putih dan hitam dan satu macam tumbuh di pegunungan berwarna merah. Jelutung termasuk ke dalam jenis pohon dwiguna, artinya pohon yang dapat menghasilkan kedua jenis komoditi hasil hutan yaitu komoditi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) berupa getah jelutung dan hasil hutan berupa komoditi kayu. Pohon jelutung dapat disadap sepanjang tahun, produksi getah per pohon tergantung pada ukuran pohon dan cara penyadapannya. Sedangkan mutu getah jelutung tergantung pada jenis pohon jelutung yang disadap serta perlakuan dan teknik penanganan pascapanen yang diterapkan. Mutu getah jelutung terbaik dihasilkan dari Dyera costulata (Jelutung oukit). Getah jelutung bermutu tinggi bila memiliki kandungan karet (perca) yang tinggi dan resin (harsa) yang rendah. Dyera Costulata menghasilkan getah sekitar 2,5 kg lebih banyak dari Dyera laxiflora yang hanya menghasilkan 0,5 kg getah. Di Kalimantan dari satu pohon pantung rata-rata dapat menghasilkan pantung seberat pikul atau rata-rata produksi getah jelutung sebanyak 50 kg/pohon/tahun. Penyadapan dilakukan pagi hari supaya getah yang dihasilkan berjumlah banyak dan tidak membeku. Getah hasil penyadapan berwarna putih seperti susu. Agar tidak membeku, pada getah hasil sadapan segera ditambahkan air sebanyak sepertiga bagian dari jumlah getah hasil penyadapan. Ditempat penampungan, getah diencerkan dengan penambahan air, minyak tanah dan batu kapur, jumlah air yang ditambahkan sebanyak 3 kali jumlah getah dan minyak tanah sebanyak 8 liter, campuran diaduk selama 2 jam dan kemudian didiamkan. Kayu jelutung bersifat lunak dan berwarna putih dengan tekstur permukaan agak rata, halus dan licin sehingga bisa digunakan sebagai bahan pola sepatu, sebagai bahan baku pembuatan batang pensil dan sebagai bahan pembuatan papan dan peti. Vinir kayu jelutung mudah dibuat dan mudah direkat. Kayu jelutung mudah digergaji dalam keadaan kering dan mudah dikerjakan seperti diserut, dibor, dipaku, disekrup dan diberi finishing seperti cat, divernis dan dipelitur. Semua bagian kayu segar sangat rentan terhadap serangan jamur blue-stain, pengupasan kulit tanpa dibarengi pembubuhan fungisida akan mempermudah serangan blue-stain. Karena pohon jelutung termasuk jenis pohon dwiguna, maka sangat baik untuk dikembangkan di kawasan penyangga (buffer zone) sebagai tanaman konservasi dan sumber penambah penghasilan bagi masyarakat setempat. Upaya pengembangan tanaman jelutung di kawasan penyangga perlu dibarengi dengan penyuluhan tentang teknik penyadapan, pengolahan dan standar mutu komoditi jelutung, sehingga masyarakat setempat dapat menikmati nilai tambah dari pengolahan getah jelutung. FROM: http://www.dephut.go.id/index.php?q=id/node/1752 PRODUKSI GETAH JELUTUTNG YG DI HASILKAN : 1 TON/BULAN MELAYANI KONTRAK DENGAN HRG 80RB/KG JELUTONG DESCRIPTION AND USES Jelutong is the coagulated gutta-like material obtained from the latex of wild trees of Dyera species which are indigenous to certain parts of Southeast Asia. Before Hevea plantations were developed in Southeast Asia, jelutong was produced and exported for the manufacture of inferior rubber items, in which elasticity was not a prime consideration. With the advent of large-scale rubber production, exploitation of jelutong ceased almost completely. In the 1920s it regained importance as a basic ingredient in chewing gum, sometimes in admixture with chicle, and since then (at least into the 1960s, when WILLIAMS (1963) reviewed it) this has been its main use. It has a consistency comparable to that of chicle, but the additional advantage that its properties also make it suitable for "bubble" gums. MINAT HUBUNGI KE HERGUN 08127674265 PEKANBARU-RIAU -INDONESIA
Tampilkan Lebih Banyak
hergun fish riau
jl pesisir no 3 d/a nursal kel meranti pandak rumbai pekanbaru riau indonesia, pekanbaru
Indonesia 28000
pekanbaru
02 / 01 / 2011

Detail NATURAL GUM/GETAH JELUTUNG/LATEX JELUTON/LATEX OF DYERA SPP

POHON JELUTUNG (Dyera spp.) TANAMAN DWIGUNA YANG KONSERVASIONIS DAN MENGHIDUPI Indonesia merupakan penghasil utama getah jelutung, hampir seluruh produksi getah jelutung Indonesia diekspor ke luar negeri dalam bentuk bongkah. Negara tujuan ekspor meliputi Singapura, Jepang dan Hongkong. Getah jelutung berfungsi sebagai bahan baku pembuatan permen karet yang dimulai pada tahun 1920-an dan pada tahun 1940-an getah jelutung telah menggeser posisi lateks dari pohon Achras sapota, yaitu pohon penghasil bahan baku asli permen karet yang berasal dari Amerika Tengah. Getah jelutung juga digunakan dalam industri perekat, laka, lanolic, vernis, ban, water proofing dan cat serta sebagai bahan isolator dan barang kerajinan. Jelutung merupakan salah satu jenis pohon raksasa dengan diameter batang mencapai 240 cm dan tinggi lebih dari 45 m, berbatang lurus dengan percabangan pertama dimulai pada ketinggian sekitar 30 m, tumbuh menyebar secara alami dengan jarak antara satu pohon dengan pohon lainnya 50 m dan umumnya antara 300 sampai 400 m. Jelutung tersebar di Sumatera (Jambi, Riau, Sumatra Utara) dan dikenal dengan nama abuwai, sedangkan di Kalimantan (Kalbar, Kalteng, Kalsel) dikenal dengan nama pantung. Ada tiga macam pohon Jelutung, dua macam tumbuh di Rawa berwarna putih dan hitam dan satu macam tumbuh di pegunungan berwarna merah. Jelutung termasuk ke dalam jenis pohon dwiguna, artinya pohon yang dapat menghasilkan kedua jenis komoditi hasil hutan yaitu komoditi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) berupa getah jelutung dan hasil hutan berupa komoditi kayu. Pohon jelutung dapat disadap sepanjang tahun, produksi getah per pohon tergantung pada ukuran pohon dan cara penyadapannya. Sedangkan mutu getah jelutung tergantung pada jenis pohon jelutung yang disadap serta perlakuan dan teknik penanganan pascapanen yang diterapkan. Mutu getah jelutung terbaik dihasilkan dari Dyera costulata (Jelutung oukit). Getah jelutung bermutu tinggi bila memiliki kandungan karet (perca) yang tinggi dan resin (harsa) yang rendah. Dyera Costulata menghasilkan getah sekitar 2,5 kg lebih banyak dari Dyera laxiflora yang hanya menghasilkan 0,5 kg getah. Di Kalimantan dari satu pohon pantung rata-rata dapat menghasilkan pantung seberat pikul atau rata-rata produksi getah jelutung sebanyak 50 kg/pohon/tahun. Penyadapan dilakukan pagi hari supaya getah yang dihasilkan berjumlah banyak dan tidak membeku. Getah hasil penyadapan berwarna putih seperti susu. Agar tidak membeku, pada getah hasil sadapan segera ditambahkan air sebanyak sepertiga bagian dari jumlah getah hasil penyadapan. Ditempat penampungan, getah diencerkan dengan penambahan air, minyak tanah dan batu kapur, jumlah air yang ditambahkan sebanyak 3 kali jumlah getah dan minyak tanah sebanyak 8 liter, campuran diaduk selama 2 jam dan kemudian didiamkan. Kayu jelutung bersifat lunak dan berwarna putih dengan tekstur permukaan agak rata, halus dan licin sehingga bisa digunakan sebagai bahan pola sepatu, sebagai bahan baku pembuatan batang pensil dan sebagai bahan pembuatan papan dan peti. Vinir kayu jelutung mudah dibuat dan mudah direkat. Kayu jelutung mudah digergaji dalam keadaan kering dan mudah dikerjakan seperti diserut, dibor, dipaku, disekrup dan diberi finishing seperti cat, divernis dan dipelitur. Semua bagian kayu segar sangat rentan terhadap serangan jamur blue-stain, pengupasan kulit tanpa dibarengi pembubuhan fungisida akan mempermudah serangan blue-stain. Karena pohon jelutung termasuk jenis pohon dwiguna, maka sangat baik untuk dikembangkan di kawasan penyangga (buffer zone) sebagai tanaman konservasi dan sumber penambah penghasilan bagi masyarakat setempat. Upaya pengembangan tanaman jelutung di kawasan penyangga perlu dibarengi dengan penyuluhan tentang teknik penyadapan, pengolahan dan standar mutu komoditi jelutung, sehingga masyarakat setempat dapat menikmati nilai tambah dari pengolahan getah jelutung. FROM: http://www.dephut.go.id/index.php?q=id/node/1752 PRODUKSI GETAH JELUTUTNG YG DI HASILKAN : 1 TON/BULAN MELAYANI KONTRAK DENGAN HRG 80RB/KG JELUTONG DESCRIPTION AND USES Jelutong is the coagulated gutta-like material obtained from the latex of wild trees of Dyera species which are indigenous to certain parts of Southeast Asia. Before Hevea plantations were developed in Southeast Asia, jelutong was produced and exported for the manufacture of inferior rubber items, in which elasticity was not a prime consideration. With the advent of large-scale rubber production, exploitation of jelutong ceased almost completely. In the 1920s it regained importance as a basic ingredient in chewing gum, sometimes in admixture with chicle, and since then (at least into the 1960s, when WILLIAMS (1963) reviewed it) this has been its main use. It has a consistency comparable to that of chicle, but the additional advantage that its properties also make it suitable for "bubble" gums. MINAT HUBUNGI KE HERGUN 08127674265 PEKANBARU-RIAU -INDONESIA
Tampilkan Lebih Banyak